Blog Archive

Kamis, 16 Mei 2013

{FICLET} I Love You, too


***
Title: I Love You, too (the sequel of Not Déjà Vu)
Genre: Romance, Fluff, AU (Alternate Universe)
Rating: PG-13
Length: One-Shots (900+ words)
Casts: Cho Kyuhyun, Ham Eunjung
Disclaimer: Kyuhyun & Eunjung adalah kepunyaan Tuhan. Dan, cerita ini adalah kepunyaan aku. So, DILARANG KERAS BUAT NGECOPY-PASTE CERITA INI, APALAGI NGE-DISCLAIM CERITA INI SEBAGAI HASIL KARYA KAMU. Comment totally allowed, tapi please, gunakan bahasa yang baik & sopan. Satu hal lagi, kalau ga suka sama postingan ini, PLEASE LEAVE THIS BLOG & DON’T DO ANYTHING EXCEPT THAT. ThanKYU! ;)
***
[Eunjung POV]
Sudah tiga bulan semenjak pertemuan pertamaku & Kyuhyun kembali. Kini, Kyuhyun semakin “rajin” datang ke kafe tempatku bekerja. Setiap minggu malam, ia juga suka menyanyikan beberapa lagu disini. Dan itu membuat kafe kami semakin ramai. Ia juga tak pernah meminta bayaran. Tapi, ia meminta kepada bos-ku, supaya gajiku dinaikan. Dia baik sekali bukan…? ♡
Ah, kalau saja Tuhan mengizinkan, aku ingin Kyuhyun selalu ada di sampingku. Meskipun mungkin nanti, ia punya seseorang yang istimewa. Dan mungkin, “jarak” di antara kami nanti akan semakin jauh. Meskipun begitu, mencintainya secara sepihak seperti ini sudah cukup memuaskan bagiku. Aku sudah cukup bahagia.
***
“Ham Eunjung, Cho Kyuhyun mau makan…” bisik Kyuhyun, di telingaku. Bisa kurasakan hembusan nafasnya yang hangat. Aku hanya diam, sedikit terkejut & bingung. Karena, perasaanku padanya ini begitu cepat bertumbuh. Aku takut kalau dia sampai tahu hal ini, hubungan kami bisa memburuk. Aku tak mau itu terjadi…
“Eunjung-ah!” kudengar suara Kyuhyun membuyarkan lamunanku. Aku mendongak ke atas, ke arah sumber suara itu. “Jangan melamun terus! Kkaja! Kita makan bersama!” ajak Kyuhyun, sambil tersenyum. Lagi-lagi aku terkejut. Bagaimana tidak, wajah Kyuhyun dan aku tadi hanya berjarak beberapa senti. Aku terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Sedangkan, Kyuhyun menarik tanganku lembut, membawaku ke tempat yang diinginkannya. Aku tahu, wajahku pasti sudah memerah sekarang.
***
[Kyuhyun POV]
Aku membawa Eunjung masuk ke dalam rumah makan kecil favoritku yang terletak di pinggir jalan. Lalu, mengajaknya untuk duduk. Untuk 5 menit pertama, kami tidak berkata apa-apa. Aku juga tidak mengajaknya berbicara. Karena, aku bingung dengan tingkahnya hari ini. Eunjung terus melamun & ia juga tak seceria biasanya. Apa Eunjung sedang memiliki masalah?
“Ya! Kau mau makan apa?” tanyaku, berusaha menyingkirkan kecanggungan tadi. “Sama sepertimu saja.” jawab Eunjung, singkat. “Arasseo.” balasku, cepat. Lalu memesankan 2 mangkuk ramyun untuk kami. Aku tahu usahaku tadi gagal, dan ini malah membuat kami semakin terasa canggung.
“Kau, sedang ada masalah kah?” tanyaku, memberanikan diri. “Tidak ada.” jawabnya, singkat. “Bohong.” kataku, padanya. Lalu menatap matanya tajam. Ia balas menatapku, dengan tatapan kosong. “Cho Kyuhyun selalu tahu jika Ham Eunjung berbohong.” kataku, lembut. Ia menatapku terkejut. Wajahnya lalu berubah merah. Aku tersenyum kecil. “Kau boleh bercerita sekarang.” kataku lagi, mempersilahkan.
Eunjung menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. “Aku tak bisa menceritakannya padamu, ini terlalu…” lagi-lagi Eunjung menarik nafas panjang. “Pribadi?” tanyaku, berusaha melengkapi kata-katanya tadi. Ia mengangguk pelan. Aku tertawa. “Apa gunanya chingu kalau begitu? Aku berada disini untuk menemanimu, untuk mendengar keluh kesahmu. Ham Eunjung, ayolah…!” kataku, dengan nada merayu. Ia menatapku, lalu memajukan bibirnya sedikit. “Baiklah…” balasnya, pelan.
“Sebenarnya, aku sedang menyukai seseorang.” kata Eunjung, pelan. Bisa kulihat ia sedang menutupi wajahnya sekarang, tanda ia benar-benar malu. “Benarkah?” tanyaku, tertarik. Lalu, menyeruput kuah ramyun-ku yang masih panas. “Siapa itu?” tanyaku, lagi. “Kau mengenalnya baik, sangat-sangat baik.” jawab Eunjung, yang membuatku semakin tertarik.
“Tidak bisakah kau memberitahukan nama namja itu?”
“Ah… Aku tidak bisa”
“Inisialnya saja?”
“Ah, kau pasti akan mengenalnya!”
“Beri aku satu petunjuk…!”
“Ah, kau pasti akan mengetahui orang yang aku sukai itu…”
“Ah, jinjja” kataku, kesal. Aku memalingkan tatapanku dari tatapan Eunjung. “Seberapa penting sih orang yang ia sukai itu? Sudah jelas aku yang selalu menemaninya 3 bulan terakhir ini. Mana bisa ia menyukai orang lain seperti itu? Bukankah aku namja yang paling dekat dengannya? Seharusnya dia bukan menyukai orang itu tapi aku…” pikirku, emosi. Tapi, tidak seharusnya juga aku marah seperti ini, kan?
“Mian…” kata Eunjung, pelan. Ia menundukkan kepalanya. “Untuk apa meminta maaf?” tanyaku, sedikit kasar. Bodohnya aku, kata-kata tadi pasti akan menyakitinya. “Aku salah. Mianhaeyo Cho Kyuhyun-ah…” Eunjung menatapku memohon, matanya berkaca-kaca, berusaha membendung butiran-butiran air mata yang mendesak ‘ingin’ keluar.
Bisa kulihat Eunjung yang sedang menangis. Dan bisa kurasakan, hatiku ini sakit. Sakit karena melihat Eunjung menangis. Bukan karena kasihan, tapi karena aku menyukainya. Ya, Cho Kyuhyun menyukai Ham Eunjung.
Dengan cepat, aku mendekati Eunjung. Membenamkannya ke dalam pelukanku. Aku tahu ini egois. Tapi, aku tidak suka melihat yeoja aku sukai bersedih. “Mianhae, Eunjung-ah! Kau tidak salah, aku yang salah…” kataku, sambil terus memeluknya. Bisa kurasakan bahunya yang bergetar karena masih menangis. Kuelus-elus punggungnya pelan, berusaha menenangkannya.
“Sebenarnya, itu kau, Cho Kyuhyun.” katanya, sesenggukan. Aku terkejut. “Maksudmu?” tanyaku, melepaskan pelukanku, lalu menatapnya. “Sebenarnya, orang yang sukai itu kau. Aku tak ingin mengatakannya. Karena aku takut, kalau kau tahu aku menyukaimu, kau akan marah. Aku takut jika kau menyukai orang lain. Aku takut jika kau tidak lagi berada di sampingku. Aku takut kalau…” dengan cepat aku mengecup bibirnya sekilas, berusaha menghentikan kekhawatirannya mengenai aku. Bisa kulihat wajahnya yang berubah merah. Dan dengan segera, aku menghapus air mata yang tersisa di wajahnya. Lalu, tersenyum.
“Kau tidak perlu takut lagi, karena aku juga menyukaimu. Aku tak akan menyukai atau bahkan mencintai orang lain selain kau, Ham Eunjung. Aku akan selalu ada di sampingmu apapun yang terjadi. Saranghaeyo… Ham Eunjung-ssi~” kataku, lalu mengecup tangannya lembut.
“Jinjjayo?” tanya Eunjung, penuh harap. “Geureomyeo!” jawabku, sambil tersenyum. Eunjung balas tersenyum. “Ya! Ayo kita makan ramyunnya!” kataku, pada Eunjung. “Neee!” balas Eunjung, sambil mengangkat sumpitnya.
***
Aku senang mengetahui Eunjung menyukaiku. Apalagi, dia satu-satunya orang yang menemaniku di masa-masa sulitku ini. Dimana aku tak memiliki teman atau keluarga satu orang pun. Meskipun begitu, Eunjung selalu setia berada di sampingku, ia selalu sabar melihat & menanggapi sikap-sikapku yang seharusnya membuatnya kesal. Walaupun begitu, Eunjung tetap tersenyum untukku. Karena itulah aku menyukainya. Dan juga, aku ingin terus menjaganya. Menjaganya agar selalu ada di sampingku, menjaganya sampai kami tua nanti. Aku ingin selalu membuatnya bahagia.
Karena kebahagiaan Ham Eunjung, akan menjadi kebahagiaan Cho Kyuhyun juga ♡
Note: Sorry kalo FF-nya jelek atau gak jelas >,< RCL allowed~! Please give your thought on the comment box :DDD

{FICLET} Not Déjà Vu

***
Title: Not Déjà Vu
Genre: Romance, Fluff, AU (Alternate Universe)
Rating: G
Length: One-Shots (800+ words)
Casts: Cho Kyuhyun, Ham Eunjung
Disclaimer: Kyuhyun & Eunjung adalah kepunyaan Tuhan. Dan, cerita ini adalah kepunyaan aku. So, DILARANG KERAS BUAT NGECOPY-PASTE CERITA INI, APALAGI NGE-DISCLAIM CERITA INI SEBAGAI HASIL KARYA KAMU. Comment totally allowed, tapi please, gunakan bahasa yang baik & sopan. Satu hal lagi, kalau ga suka sama postingan ini, PLEASE LEAVE THIS BLOG & DON’T DO ANYTHING EXCEPT THAT. ThanKYU! ;)
***
S
ambil duduk santai di atas bangku taman, Eunjung tersenyum sendiri, melihat gambar pakaian di dalam majalah fashion yang baru saja dibelinya. “Selera fashion-ku tidak sebaik itu.” katanya, sambil terkekeh. Di hari-hari libur seperti ini, Eunjung terbiasa menyendiri sambil membaca majalah fashion favoritnya. Meskipun begitu, selera fashion-nya sangatlah buruk. Satu lagi, hal yang sering dilakukannya saat dihari libur adalah melamun. Ya, melamun memikirkan dirinya sendiri.
***
Ham Eunjung - nama yeoja itu – saat ini bekerja sebagai seorang pelayan kafe. Dan, ia sangat menikmati pekerjaannya itu. Dari hari Senin sampai Sabtu, ia selalu melayani para pelanggan dengan senyuman ramahnya. Dan, itu membuat banyak pelanggan senang dengan pelayanannya. Eunjung saat ini tinggal sendiri di apartemennya yg bisa dibilang, sederhana. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Sedangkan sanak saudaranya tinggal di luar kota. Meskipun begitu, ia selalu berusaha agar tak terlihat kesepian. Selalu berusaha tersenyum, padahal hatinya tidak tersenyum. Ia membutuhkan seseorang yang bisa mengisi hari-hari sepi nan membosankannya. Ia membutuhkan seseorang untuk dicintai…
***
[Eunjung POV]
“Ya…!” ujar seorang namja, sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapanku. Setengah tersadar dari bayangan-bayangan bodohku, aku menatap matanya. “Kau menangis?” tanyanya, sedikit terkejut. Aku sedikit bingung mendengar pertanyaannya tadi. “Menangis?” tanyaku, di dalam hati, lalu mengucek kedua belah mataku. “Ah…” kataku, tersadar. Ia lalu mengulurkan saputangan biru muda miliknya padaku. “Pakai ini.” katanya, lembut. Aku menatapnya bingung. Wajahnya terlihat begitu familiar, apakah ini yang disebut déjà vu? Atau aku memang mengenalnya? Memoriku ini memang tak terlalu bagus “Gomawo.” kataku, sambil menerimanya.
Ia lalu duduk di sampingku. “Kau sering duduk disini?” tanyanya, santai. “Ne. Tapi, hanya saat hari libur.” jawabku, berusaha terdengar ramah. “Kau?” aku lalu balik bertanya. “Ini baru pertama kalinya aku duduk disini” jawabnya, sambil tertawa kecil. Aku ikut tersenyum melihat ia tertawa. Kalau dilihat-lihat, dia itu tampan juga. Dan, wajah tampannya juga familiar.
“Oh, ya! Tadi, kenapa kau menangis?” tanya namja itu, ingin tahu. Aku terdiam sebentar. “Aku hanya…” aku terdiam lagi “Merindukan orang tua-ku” lanjutku, pelan. Rasanya, aku sudah mulai nyaman berbicara dengan namja ini.
“Memangnya orang tuamu ada dimana?” tanyanya, lagi. “Disana.” jawabku, sambil menunjuk ke arah langit. Ia lalu menatap langit sore itu, lalu menatapku kembali. “Kau pasti kesepian.” katanya, dengan nada serius. Aku terdiam. Tapi, apa yang dikatakannya memang benar. Aku memang selalu kesepian.
“Aku juga begitu.” katanya, lagi. Aku menatap wajahnya dengan tatapan mata ‘aku ingin mendengar ceritamu’. Ia tersenyum kecil. “Orang tuaku bercerai. Eommaku sudah meninggal & Appaku, entah dimana ia berada. Mantan yeoja chingu-ku berselingkuh di belakangku & besok adalah hari pernikahannya. Semua orang terdekatku menghilang entah kemana setelah perusahaan besar Eomma yang kuurus bangkrut. Saat ini, aku hanya bisa bekerja sebagai penyanyi kafe.” ceritanya. Aku tersentuh, mataku sampai berkaca-kaca. Ternyata, masih ada orang yang jauh lebih kesepian & menderita dariku.
“Tidak usah menangis.” katanya, padaku. “Siapa yang menangis?” tanyaku, pura-pura marah. Ia tersenyum padaku, lalu mengusap-usap kepalaku lembut. Aku hanya diam, sambil menatapnya. “Kau manis juga ternyata.” katanya, sambil tersenyum menatapku. Wajahku memerah mendengar pujiannya. Sebelumnya, tak pernah ada orang yang memujiku seperti itu.
“Oh, ya! Kenapa aku tidak marah orang tidak dikenal ini mengusap-usap kepalaku?” tanyaku, di dalam hati. Aku jadi kelihatan begitu bodoh & menyedihkan di hadapan orang ini. Orang yang bahkan namanya saja aku tak tahu. “Namamu.” gumamku, pelan. “Mwo?” tanya namja itu padaku. “Siapa namamu?” aku balik bertanya, memperjelas gumamanku tadi. “Yang jelas, namaku bukan Ham Eunjung” jawabnya, sambil tersenyum jahil. “Hah! Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku, terkejut. Jelas saja, aku kan tak pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya. Atau, kami pernah bertemu?
“Kau tidak perlu tahu alasannya.” jawabnya, yang membuat aku semakin ingin tahu. Aku cemberut. “Ya sudah, beritahu saja namamu!” perintahku, padanya. ”Ada satu syarat!” katanya, sambil menatapku. “Apa itu? Kenapa rasanya sulit sekali untuk mengetahui namamu itu?” tanyaku, protes. ”Berjanjilah untuk menjadi chingu-ku” katanya, sambil mengulurkan salah satu kelingkingnya. “Aku berjanji.” kataku, lalu mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya.
“Ham Eunjung, gomawo karena mau menjadi chingu Cho Kyuhyun.” katanya, lalu memelukku erat. Aku terkejut, lalu melepaskan pelukannya. Menatapnya lama sekali – memutar kembali memori masa lalu kami – lalu menangis. “Kau ini Kyuhyun temanku waktu masih di sekolah menengah dulu? Kenapa tidak bilang dari awal? Kau mengejutkanku babo! Kenapa kau mengerjaiku seperti ini? Kau tidak tahu kalau aku…” belum sempat aku menyelesaikan omelanku, ia membenamkan kepalaku di dadanya. “Aku juga merindukanmu, Ham Eunjung.” katanya, sambil memelukku erat.
***
Aku & Kyuhyun saling bercerita tentang masa lalu kami. Kyuhyun banyak berubah. Maksudku, penampilannya. Karena dulu, ia selalu memakai kacamata. Dan seingatku, ia tak setampan saat ini. Atau, memang aku saja yang terlalu bodoh. Karena, tidak mengenali wajahnya itu.
Minggu depan, Kyuhyun berjanji untuk mampir ke kafe-ku, dia juga bilang akan menyanyi untukku. Aku senang sekali! Bagaimana tidak? Aku dan Kyuhyun sudah lama tidak berjumpa. Aku jelas saja merindukannya. Ya, itu benar. Aku merindukannya…
***
Eung, hari-hari ke depan nanti, aku tidak yakin akan kesepian lagi. Karena, Kyuhyun akan mengisi kekosongan itu. Sebagai chingu yang baik, aku juga tak akan membiarkan Kyuhyun kesepian (lagi).
Karena sepertinya, Ham Eunjung mulai menyukai Cho Kyuhyun. ♡
Note: Sorry kalau cerita + posternya jelek >,< Posternya buatan aku juga, hehe. But, could you appreciate it by give comment or critic on the comment box below this post??? ^_^

Sabtu, 16 Maret 2013

[RANDOM] SEPARATED


It’s too hard
I don’t wanna let you go
The part of my life
Please stay by my side

We were awkward
We started to talking comfortably
It wasn’t easy like we’ve thought
But, we getting closer and closer

Who make me learn many thing that I don’t know
Who always try to make me feel better
I’m happy to be together with you
You’re my forever friend

The one who always accompany me
When I was sad, when I was happy
Time is going too fast
I know, we will separate just like now

The day that we waiting so long is coming
We have to say goodbye each other
We have to through our own way
One of many valueable things in my life, friend

By: Me

Sabtu, 09 Februari 2013

{FANFICTION} Late Confession

Title: Late Confession
Rating: Teenager
Pairing: Kyuhyun ‘Super Junior’ – Eunjung ‘T-ARA’
Genre: Romance, Angst, Sad
Author: Diva Priscillia (@divapriscillia)
Cast: Kyuhyun SJ, Eunjung T-ARA, Tiffany SNSD
Length: One-shot
Recommended Song: Just Once - Cho Kyuhyun
***
Kyuhyun POV
“Anakku...”
“Oppa...”
“Kyuhyun-ya...”
Keringat dingin lagi-lagi menetes dari dahiku. Aku terbangun lagi di malam yang anginnya begitu menusuk kulit ini. Sebenarnya, tidak bisa dibilang malam juga. Karena, setelah aku melihat jam, sekarang sudah jam 2 dini hari.
“Mimpi apa aku tadi?” pikirku, khawatir. Sudah 3 malam, aku memimpikan hal yang sama. Semuanya mengenai keluargaku, teman-temanku & Eunjung. Kau boleh mengatakan Eunjung itu sahabatku. Temanku, atau pacarku juga boleh. Aku tidak terlalu peduli. Karena, hubungan kami tidak terlalu jelas sebenarnya. Tapi, aku menikmati ‘hubungan aneh’ kami ini. Alasannya, jangan tanya aku. Karena, aku sendiri juga tidak tahu.
Akhirnya, aku berusaha memejamkan mataku lagi. Meskipun, aku tidak yakin akan tidur dengan nyenyak setelah mengalami mimpi yang ‘mengerikan’ itu. Mimpi-mimpi itu, semuanya membuat aku kehilangan mereka. Keluargaku, teman-temanku, juga Eunjung. Benar-benar mengerikan. Semuanya terasa begitu nyata. Yah, yang penting, asalkan kejadian ‘mengerikan’ itu tidak terjadi. Aku cukup bisa bernapas lega, bukan?
***
Mataku terus terbuka lebar hingga pagi ini. Aku sama sekali tidak bisa tidur. Padahal, mata ini terasa begitu berat. Mimpi itu, benar-benar menggangguku. Dengan kesal, aku merapikan tempat tidurku. Tiba-tiba, Tiffany, dongsaeng-ku, muncul di depan pintu kamarku.
“Oppa...!” ia memanggilku, sambil tersenyum. “Omo!” aku tersentak kaget. Lalu menatapnya tajam. “Kau membuat jantungku ini hampir berhenti berdetak, tahu?!” kataku, kesal. “Yang penting, sekarang masih berdetak, kan?” tanyanya, santai. “Babo!” aku mengacak-ngacak rambutnya yang panjang kecoklatan itu. Ia tersenyum & menunjukkan smiling-eyes-nya. Lalu, menarik tanganku. “Kkaja! Kita sarapan pagi! Eomma sudah membuatkan sarapan yang spesial untuk kita.” Tiffany tersenyum lagi & mulai berjalan, aku mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruang makan, Tiffany & aku segera duduk di kursi masing-masing. Siap-siap melahap habis nasi goreng spesial buatan uri eomma. “Nasi goreng-nya sudah matang!” kata eomma, sambil tersenyum. Well, sebentar lagi, ‘perang sarapan pagi’ Fany & aku akan berlangsung. Hehehe...
***
Eunjung POV
“Eunjung-ya!” Kyuhyun melambaikan tangannya & tersenyum padaku. Jujur saja, akhir-akhir ini, aku jadi sering merindukan Kyuhyun. Padahal, setiap hari kita bertemu. Aku jadi bingung. Seakan-akan, tak lama lagi, sesuatu yang ‘tidak menyenangkan’ akan terjadi.
“Eunjung-ya!” Kyuhyun menepuk kedua pundakku dengan tangannya yang besar. “KYUHYUN-YA!!!” teriakku kaget. Hampir seluruh mahasiswa di kampus itu menatapku. Aku hanya tersenyum kecil & membungkukkan tubuhku berkali-kali.
“Babo!” ujarku, sambil menjitak kepala Kyuhyun pelan. “Tidak tahu apa? Kalau aku berteriak, seluruh bagian kampus ini bisa runtuh?” lanjutku, kesal. “Ara! Lalu, kenapa kau berteriak?” tanyanya, santai. “Karena aku KA...” Kyuhyun membekap mulutku dengan tangannya. Ia tahu aku akan berteriak lagi. Berteriak, kebiasaanku yang paling aneh.
Aku memelotokan mataku pada Kyuhyun. Ia membalasnya dengan senyuman evil-nya. “Anak ini kenapa tampan sekali, sih?” pikirku, sambil menatap matanya, terpesona. “Aku tahu aku ini tampan.” katanya, seakan-akan membaca pikiranku. Atau, ia memang tahu apa yang aku pikirkan. “Kkaja, kita ke kantin!” ia berhenti membekap mulutku. Lalu, menarik tanganku, hendak mengajakku ke kantin, meskipun aku belum mengatakan apa-apa.
***
“Kau mau makan apa?” tanyanya, sambil menatap wajahku dari dekat. Aku tahu, saat ini wajahku sedang memerah. Aku juga tahu, kalau jantungku berdetak dengan cepat. Itu karena, aku menyukainya. Aku menyukai Kyuhyun.
“Ya! Eunjung-ya!” ujarnya, sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. “Ah, ne!?” akhirnya, aku tersadar dari lamunanku. “Kau mau makan apa?” ia bertanya lagi. “Aku sudah makan, kok! Kau saja!” kataku, dengan nada menolak. Aku hanya tidak mau merepotkan Kyuhyun. Karena, semenjak kedua orang tuaku pindah kerja keluar kota, Kyuhyunlah yang selalu memperhatikan aku. Keluarganya pun begitu baik padaku. Meskipun, ia sendiri kehilangan sosok appa-nya sejak masih kecil.
“Eunjung, jangan lupa makan, ya!”, “Jangan mengerjakan skripsimu terlalu larut! Aku takut kau nanti sakit.” atau “Kalau kau takut sendirian di rumah, telepon aku saja!” Semuanya itu adalah kata-kata yang sering Kyuhyun lontarkan padaku. Ah, betapa baiknya Tuhan itu. Aku bisa mengenal orang sebaik dia.
“Eunjung, kau dari tadi melamun terus. Ada apa?” tanyanya, serius. “Tidak ada apa-apa, kok!” jawabku, mengelak. Meskipun sebenarnya, dari tadi, aku memikirkan dia. “Emm... Kau tidak jadi membeli makanan?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan. “Tidak. Kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya, Eunjung-ya? Apa kau sedang menyukai seseorang?” tanyanya, kembali menatapku dengan serius. Ini artinya, aku gagal mengalihkan pembicaraan ini. “Tidak ada apa-apa, kok! Sungguh!” jawabku, sambil membentuk tanda “V” dengan jari telunjuk & jari tengahku. “Ya, sudahlah. Lagipula, aku tidak ada hubungan dengan hal ini.” Kyuhyun bangkit dari kursinya, lalu pergi meninggalkanku. “Kau mau kemana?” tanyaku, khawatir dia akan marah padaku. “Apa kau perlu tahu?” ia menghentikan langkahnya sebentar. Lalu, berjalan kembali. Aku hanya diam. Kyuhyun tidak biasanya seperti ini. Kyuhyun-na, jebal... Jangan marah padaku...
***
Kyuhyun POV
Dear Eunjung,
Kau menyukai seseorang, kah? Kenapa akhir-akhir ini kau sering melamun? Kenapa wajahmu juga sering memerah? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah orang yang kau sukai itu aku? Kenapa kau tidak menyatakannya? Atau, kau sedang menunggu waktu yang tepat?
Atau kau menunggu aku yang mengatakannya? Sadarkah kau, aku juga mencintaimu, Eunjung-ya!
Kyuhyun-na
Tulisku di dalam secarik kertas. Yang akhirnya, aku remas-remas & buang. Eunjung, Eunjung, Eunjung. Sekarang, isi kepalaku hanya Eunjung & Eunjung. Aaarrrggghhhh....! Memangnya, perasaan cinta itu bisa sampai sekuat ini?
Ting!
“Hp-ku? Mana hp-ku?” tanyaku pada diriku sendiri, sambil memeriksa tas ransel hitamku. Kubuka pesan yang masuk ke hp-ku. Pesan dari Eunjung.
Kyuhyun-na, sepulang dari kampus. Maukah kau menemuiku di depan kampus? Ada yang perlu kukatakan.
Aku terdiam. “Apa yang akan Eunjung katakan padaku nanti?” tanyaku, ingin tahu.
***
Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Aku menunggu Eunjung di seberang kampus. Sambil membeli kopi di sebuah cafe untuk kami berdua. “Kenapa ia belum datang juga?” tanyaku, sambil menatap jam tangan di lengan kananku. Waktu berjalan begitu lambat. Hingga akhirnya...
“Kyuhyun-na!” panggil Eunjung, dari seberang cafe. Ia melambai-lambaikan tangannya & tersenyum padaku. Persis denganku saat pagi tadi di kampus. Tanpa melihat samping kanan & kiri, ia menyebrangi jalan raya besar itu. Ia tidak menyadari bahwa ada mobil hitam yang akan segera melintas. “EUNJUNG-YA!!!” teriakku, memanggil namanya. Namun, ia tidak menghiraukanku. Dengan segera, aku menjatuhkan kedua gelas kopi di tanganku. Dan, berlari ke arahnya. Dengan cepat, aku mendorong Eunjung ke tepian jalan. Sedangkan aku, aku hanya diam. Tanpa menyadari mobil itu sudah akan menabrakku....
“Eunjung, saranghae...!” kataku, pelan. Sambil memejamkan mataku.
***
Eunjung POV
“ANDWAAAEEE....!!!!” teriakku, histeris. Mobil hitam itu menabrak Kyuhyun. Darah, begitu banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Si pengemudi mobil & orang-orang yang ada di sekitar kampus segera menolong Kyuhyun. Mereka membawanya ke rumah sakit. Aku pun ikut serta. Karena, semua ini kesalahanku. Sudah pasti...
Sesampainya di rumah sakit, Kyuhyun segera di bawa ke ruang UGD. Tentu saja aku tidak diperbolehkan masuk. Dengan perasaan campur aduk. Aku menanti kabar dari dokter. Dan juga, menanti kedatangan eomma Kyuhyun & Tiffany.
“Eonni!” ujar Tiffany, memanggilku. Ia segera memelukku dengan erat & menangis. “Oppa... Apa yang terjadi dengannya?” tanya Tiffany, sedih. “Semuanya terjadi begitu cepat, ia berusaha menyelamatkanku.” jawabku singkat. Aku pun kembali menangis. Karena, perasaan campur adukku ini. Eomma Kyuhyun ikut memelukku & Tiffany. “Geokjeonghajima! Ia pasti baik-baik saja.” Kata eomma, ikut sedih.
***
Kyuhyun POV
Aku koma 3 hari setelah kejadian itu. 3 hari itu pula, Eunjung yang selalu menemaniku. Aku tidak ingat kalau aku mengalami koma. Namun, yang aku tahu, setiap hari Eunjung selalu membisikkan kata cinta padaku. Itu membuatku merasa hidup kembali. Tapi, perasaanku saat ini juga masih tidak menyenangkan. Rasanya, aku akan mati.
“Eunjung-ya...” aku memanggil nama Eunjung pelan. Eunjung segera bangun. Ia terlihat kaget mengetahui aku sudah sadar. “Bisa tolong aku?” tanyaku, pelan. “Ne!” ujarnya. “Bisakah kau panggilkan Eomma & Tiffany?” tanyaku, lagi. Ia lalu mengangguk.
Tak berapa lama, Eunjung datang bersama Eomma & Tiffany. “Oppa!” ujar Tiffany, terharu. “Anakku...” kata Eomma, lembut. Sedangkan Eunjung, hanya diam menatapku. “Mian.” kataku, pelan. “Karena, aku koma selama 3 hari ini.” lanjutku lagi. Hanya dengan berkata seperti itu, 3 orang yang aku cintai ini menangis terharu. Ini semua membuat hatiku sakit. Begitu sakit. Karena sekarang aku sudah sadar, sebentar lagi aku akan mati.
Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih kepada mereka semua. Eomma-ku, Fany & Eunjung. Aku meminta maaf lagi. Dan, berpesan kepada mereka semua. Agar Eomma jangan terlalu kelelahan bekerja. Agar Tiffany jangan terlalu cerewet hingga membuat eomma pusing. Agar Eunjung jangan merasa bersalah lagi.
Setelah itu, aku meminta Eomma & Fany untuk keluar dari ‘kamarku’. Karena, ada yang ingin kubicarakan dengan Eunjung. “Eunjung-ya... Jinjja bogosiphda!” aku tersenyum. Sedang, ia malah menangis lalu memelukku. “Nado, Kyuhyun-na... Nado!” katanya, terisak. “Mian. Karena, baru menyadari perasaanmu untukku selama ini. Padahal, aku sendiri mencintaimu.” kataku, menyesal. “Gwaenchana, Kyuhyun-na... Gwaenchana. Aku yang salah.” Eunjung ikut merasa menyesal.
“Haruskah kita mem-flashback memori indah kita. Aku merindukan saat-saat itu...” kataku, pelan. Eunjung mengangguk. Ia lalu menceritakan memori indah kami dulu. Sambil mendengarkan, ceritanya. Aku terus tersenyum. Setidaknya, sebelum aku pergi. Aku ingin meninggalkan minimal 1 kenangan baik untuknya.
“Eunjung, bolehkan aku menyanyi untukmu?” tanyaku, pelan. “Boleh.” jawabnya.
Can I love you? I have something I want to say
But my lips are heavy and my heart has words that it couldn’t say even once
You’re getting farther away when I still have words I couldn’t say, my dear...
Like a fool, I swallowed those words into my heart
Even though it hurts, I only want you
Aku terus bernyanyi. Hingga akhirnya, Eunjung tertidur di samping tempat tidurku. Kubelai lembut rambut pendeknya itu & kutatap wajahnya yang mempesona itu. Aku tidak ingin ia tahu kalau seandainya aku sudah pergi. Meskipun, pada akhirnya dia akan menyadarinya juga.
Semuanya sudah tersampaikan. Apa yang harus kulakukan lagi? Tapi, aku masih ingin bersama dengan Eunjung. Waktu terasa begitu cepat bila aku bersama dengannya. Seandainya Tuhan memberikan aku kesempatan satu kali lagi. Izinkan aku mencintai Eunjung lagi. Izinkan aku hidup bersamanya.
Aku pejamkan mataku perlahan-lahan. Alat penghitung detak jantung itu, sebentar lagi akan segera berhenti.
DEG..... DEG.......
Eomma....
DEG......... DEG.........
Fany.....
DEG.......... DEG...............
Eunjung.......
................................................................................................................................
“Anakku...”
“Oppa...”
“Kyuhyun-ya...”
Ternyata...
Mimpi itu...
Mengantarkan aku untuk ‘pulang’
***
Hari ini, adalah hari pemakaman Kyuhyun. Dokter bilang, penyebab kepergian Kyuhyun adalah karena pembuluh darah Kyuhyun di dalam kepalanya pecah. Eomma, Fany, teman-teman Kyuhyun di kampus, para dosen & orang-orang terdekat ikut mengantarkan kepergiannya. Kyuhyun memang pantas dicintai...
“Eonni!” Fany memanggilku. “Ne!?” aku menyahut. “Ini.” Katanya, sambil memberikan sebuah buku padaku. “Apa ini?” tanyaku, ingin tahu. “Semua yang ditulis Oppa untukmu.” jawabnya, pelan. “Ah, gomawo!” kataku, tersenyum kecil. “Galge!” katanya, lalu pergi meninggalkanku. “Annyeong!” balasku.
Kubuka buku itu & kubaca halaman demi halaman. Melihat tulisan tangannya saja, aku sudah menangis. Buku itu, berisi surat-surat yang ditulis Kyuhyun untukku. Setiap kenangan kami & perasaan Kyuhyun padaku. Kyuhyun mungkin membuang surat-surat ini. Tapi, Fany pasti yang memungutnya. Kubaca halaman demi halaman. Hingga akhirnya, aku sampai dihalaman terakhir. Ada foto Kyuhyun & aku sedang memakan es krim di taman. Ia tersenyum lebar. Sambil mengenakan cardigan hitam pemberianku. Ah, Kyuhyun. Aku sekarang merindukannya.
-THE END-
Note: Gimana FF-nya?!?!?! Ah, pertama kali bikin FF yg genre-nya sad or angst.... Makanya, belum berpengalaman. Kritik, komen & saran please.... ^^ Thanks for reading!